syarat adopsi anak di indonesia

Hukum Mengadopsi anak Dalam Agama Islam Hukum Mengadopsi anak Dalam Agama Islam

Hukum Mengadopsi anak Dalam Agama Islam – Mengadopsi anak memang menjadi salah satu tindakan yang mendatangkan berbagai pro dan kontra, sebagai para pengadopsi pastinya anda memiliki berbagai alasan.

Bagaimana sesungguhnya hukum mengangkat anak dalam Islam? Mengangkat atau adopsi anak bisa menjadi salah satu cara yang ditempuh bagi pasangan yang hingga kini kesulitan mendapatkan momongan.

Mungkin bagi Mama-Mama yang sudah bertahun-tahun berikhtiar memiliki namun belum diberi rezeki keturunan. Bisa jadi terpikirkan buat melakukan proses adopsi anak ini. Ada banyak hal tentunya yang harus kamu dan pasanganmu pertimbangkan ketika akan mengadopsi anak. Selain tata caranya, tentu saja kita juga perlu mengetahui hukum mengangkat anak dalam Islam. Bagaimana sesungguhnya hukum galeticdesign mengangkat anak atau adopsi dalam Islam ini? Simak penjelasannya yang telah Mama rangkum dari berbagai sumber ya!

Hukum Mengangkat Anak dalam Islam

Di Islam sendiri, mengangkat atau mengadopsi anak telah lama dikenal, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW. Istilahnya adalah tabbani. Nabi Muhammad SAW sendiri telah melakukannya, ketika mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai anaknya. Secara harfiah, tabbani bermakna seseorang yang mengambil anak orang lain kemudian diperlakukan layaknya anak kandung sendiri.

Dalam hal ini seseorang yang mengangkat anak tersebut akan bertanggung jawab dalam memberikan nafkah, pendidikan, kasih sayang, serta keperluan lainnya yang dibutuhkan si anak. Meski secara biologis, anak tersebut bukanlah anak kandungnya. Proses adopsi biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang belum memiliki anak. Melakukan pengangkatan anak juga dapat memberikan kesempatan bagi pasangan suami istri untuk mendidik anak serta belajar menjadi sosok orang tua.

Lantas bagaimana sih sesungguhnya hukum mengadopsi anak dalam Islam? Di Indonesia, peraturan terkait pengangkatan anak terdapat pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dilanjutkan juga dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang turut memperhatikan hal ini. Pasal 171 huruf h KHI menyatakan bahwa, anak angkat adalah anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan, dan sebagainya, beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.

Menurut laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), dinyatakan bahwa MUI sendiri sudah sejak lama sudah memfatwakan mengenai proses pengangkatan anak ini. Fatwa ini menjadi salah satu dari hasil Kerja Nasional MUI yang berlangsung Maret 1984. Dalam salah satu butir hasil pertemuan tersebut, para ulama memandang, Islam mengakui keturunan atau nasab yang sah adalah anak hasil dari pernikahan kedua orang tuanya (anak kandung). Adopsi atau pengangkatan anak bisa dilakukan. Hanya saja, MUI mengingatkan ketika mengangkat anak jangan sampai si anak putus dengan nasab atau keturunan dari ayah dan ibu kandungnya.

Mengubah nasab ini misalnya, ketika mengangkat anak, kita sebaiknya tidak menyematkan nama orang tua angkat di belakang nama anak. Sebagai contoh, ketika nama asli anak adalah bin Ali, maka kita tidak boleh menggantinya menjadi bin Husain, sesuai dengan nama orang tua angkatnya.